TUJUH TIPE KECERDASAN ANAK

” Sosok si Badut, suara tawa yang keras, bunyi petasan, gelap, wajah yang tidak dikenal dan lain-lain, bagi orang dewasa merupakan sesuatu yang biasa. Bagi anak kecil hal-hal sepele itu bisa menimbulkan rasa takut, bahkan takut yang amat sangat”.

Tes IQ hingga kini masih banyak dipakai untuk mengukur tingkat kecerdasan seseorang. Namun mengukur kecerdasan dengan cara ini banyak mendapat kritik dari para ahli, pendidik, maupun orang tua, yang berpendapat bahwa tes kecerdasan ini belum sanggup mengukur potensi manusia yang kompleks dan unik.
Berdasarkan pendapat inilah Howard Gardner, Psikolog perkembangan dari Harvard University AS, melahirkan teori yang cukup kontroversial bagi lingkup pendidikan, yaitu teori kecerdasan ganda atau The Theory of Multiple Intelligence. Teori ini didasarkan atas berbagai  penelitian ilmiah dari berbagai bidang pengetahuan, dari psikologi hingga antropologi dan biologi, sampai pada akhirnya Gardner memformulasikan 7 tife kecerdasan yaitu :

1. Keceerdasan Linguistik

Pada umumnya tiap orang memiliki kemampuan berbahasa, namun di antaranya ada orang orang yang mampu menguasai berbagai bahasa dengan lebih mudah dari yang lain karena memiliki kecerdasan linguistik di atas rata-rata. Orang-orang ini biasanya menyukai kegiatan membacakan cerita serta kegiatan kegiatan yang berhubungan dengan kemampuannya tersebut.

2. Kecerdasan Logika-Matematika.

Kecerdasan ini menunjukkan kemampuan seseorang dalam mengatasi masalah yang berhubungan dengan logika atau komputasi. Biasanya orang yang memiliki kecerdasan tinggi pada logika dan matematika dapat memproses pertanyaan yang membutuhkan logika  dalam waktu yang cepat. Orang-orang ini biasanya juga mampu menyelesaikan masalah-masalah aritmatika, permainan yang menggunakan strategi dan eksperimen.

3. Kecerdasan Kinestetik.

Salah satu penemuan Gardner yang paling Controversial adalah kecerdasan bodily-kinestetid, gerakan tubuh. Menurutnya, setiap orang memiliki kemampuan untuk mengontrol gerakannya, keseimbangan, ketangkasan dan keanggunan dalam bergerak. Namun beberapa orang memiliki kemampuan natural untuk beraksi dan bereaksi melebihi orang lain, jauh sebelum mereka melatih kemampuannya tersebut. Contoh orang yang memiliki kemampuan tersebut antara lain : Michael Jordan (pebasket).

4. Kecerdasan Spasial.

Orang yang memiliki kecerdasan spasial (ruang/tempat) ini biasanya memiliki kemungkinan membayangkan bentuk-bentuk geometric atau bentuk-bentuk tiga dimensi dengan lebih mudah. Pada anak biasanya mereka menyukai kegiatan bermain puzzle, menggambar, bermain balok atau lego serta berimajinasi membentuk bangunan-bangunan lewat permainan.

5. Kecerdasan bermusik.

Kecerdasan bermusik adalah kemampuan seseorang untuk mengenali atau menggubah sebuah musik indah. Namun, kecerdasan bermusik tidak terlalu jelas terdeteksi layaknya kecerdasan intelektual, seperti kemampuan matematika, atau logika.

6. Kecerdasan Interpersonal.

Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan kehadiran orang lain. Seseorang yang mampu dalam berinteraksi dengan orang lain dengan mudah, memahami orang lain serta dapat menginterpretasikan perilaku orang lain dengan benar, dapat dikatakan orang ini memiliki kecerdasan interpersonal. Orang ini baisanya memiliki peluang untuk dapat sukses menjadi politikus, ahli pidato pemimpin atau propesi lain yang membutuhkan kemampuan sosial yang baik.

7. Kecerdasan intrapersonal.

Jika seseorang memiliki kemampuan untuk memahami diri sendiri secara lenih baik dari orang lain dikatakan bahwa orang tersebut memiliki kecerdasan intrapersonal. Kemampuan ini meliputi pemahaman terhadap diri sendiri, pemahaman terhadap perasaan yang sering dirasakan, serta pemahaman terhadap apa yang mendasari langkah-langkah yang selama ini diambil. Anak-anak yang memiliki kecerdasan yang satu ini biasanya terlihat pemalu, namun mereka sangat paham terhadap apa yang mereka rasakan.

Belakangan di tahun 1999 Gardner menemukan 2 kecerdasan lagi dari kecerdasan yang dikemukakan diatas yaitu kecerdasan naturalis dan kecerdasan eksistensialis.
Kecerdasan naturalis merupakan kemampuan seseorang untuk mengidentifikasi ataui mengklasifikasi pola-pola yang terdapat pada lingkungan. Anak-anak yang sensitive terhadap lingkungan atau memiliki kecerdasan ini biasanya menyukai kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan. Sedangkan kecerdasan eksistensial masih dalam penelitian para ahli dan belum terlalu dipublikasikan.

Melalui penemuannya ini Gardner menyatakan bahwa semua manusia memiliki seluruh kecerdasan ini, namun tidak ada dua orang yang memiliki orofil kecerdasan yang sama, walaupun kembar sekalipun ! dan semua ini akibat pengaruh genetik dan lingkungan yang berbeda pada setiap orang. ( Esthi Nimita Lubis)

MENGHINDARI PERTENGKARAN

Pertengkaran itu terjadi karena masing-masing ingin mempertahankan gengsinya.

Masing-masing gengsi untuk mengakui kekeliruannya sendiri. Dan masing-masing menolak mengakui kelebihan yang dimiliki  orang lain, atau pasangannya sendiri. Maka terjadilah pertengkaran. Kalau menurut Sigmud Freud, orang biasa saja menjadi garang karena faktor ID. yaitu syahwat yang semata-mata dikuasai oleh dorongan libido. Yang berarti prilaku yang tanpa kontrol pikiran secara baik. Dan hal itu terjadi karena dibawah sadar. Dan karena ID itu juga merupakan tuntutan pengagungan ego tetapi seringkali gagal didapatkannya. Maka yang muncul adalah sikap yang agresif.
Pada hakikatnya hampir setiap orang ingin diakui keberadaannya. Dan ingin pula dihargai. tetapi respon dari orang lain kadang-kadang tidak memuaskan. Maka emosinya meledak. Lalu siapa yang salah apabila terjadi emosi yang tidak terkontrol, dari salah satu pihak. Tentu saja bagi suami-istri, kesalahan itu bisa saja terjadi pada keduanya. Karena terjadinya emosi yang tidak terkontrol itu sendiri bisa saja karena dorongan atau rangsangan dari pasangannya, yang justru sesungguhnya bisa menguasai emosinya. yang pokok terjadinya pertengkaran karena masing-masing telah didominasi oleh faktor ID yang terlalu kuat. Super Ego, yang menurut Freud sebagai pengendali menjadi kurang berfungsi.

Pengendalian Diri

Mengapa orang bisa terlena didominasi oleh faktor id. Padahal sudah paham apabila hal yang demikian itu salah ?. Jawabannya adalah : Itulah nafsu! Nafsu seringkali mengalahkan segalanya. Nafsu hanyalah berusaha untuk menenangkan ambisi atau kemauan pribadi tanpa memperdulikan orang lain. Nafsu sering dikuasai oleh motivasi yang terlalu kuat. Gengsi, keangkuhan dan prilaku dibawah sadar itu sendiri. Yang menurut Sigmud Freud dinyatakan sebagai ID.
“Untuk menghindari prilaku salah” kata Machivelli (Filosof kondang) adalah ” Kebijaksanaan” dan Kebijaksanaan adalah bermula dari interaksi kebiasaan”. Orang akan menjadi bijaksana apabila telah mampu atau paham akan kebutuhan esensial dari manusia lain. karena manusia ternyata memiliki kebutuhan yang beragam sifatnya.
Menurut Henry A Murray Kebutuhan manusia digolongkan menjadi 20 jenis dan diantaranya adalah :

  1. Kebutuhan “Afiliasi” yaitu kebutuhan akan kasih sayang. dan kebutuhan diakui keberadaanya, dalam arti lain dihargai oleh     orang lain.
  2. Kebutuhan “Otonomi” yaitu kebutuhan akan kebebasan. Seolah-olah setiap manusia itu ingin bebas dari berbagai tekanan,     akibat undang-undang atau peraturan yang dibuat oleh orang lain dan juga diterapkan kepadanya.
  3. Kebutuhan “Berprestasi” yaitu kebutuhan bereksistensi. bahwa setiap orang sesungguhnya ingin mengekpresikan         kemampuannya secara maksimal, agar orang tersebut menemukan keunggulan pada dirinya, dan sukses melakukan         sesuatu keinginannya.
  4. Kebutuhan “Seksual” yaitu kebutuhan ingin memanisfestasikan hubungan erotik dengan lawan jenisnya.
  5. Kebutuhan yang lain-lain.

Apabila berbagai kebutuhan manusia itu terpenuhi, maka ia akan berkemungkinan menjadi manusia yang positif, tidak menjadi manusia yang emosional dan kurang terkontrol jalan pikirannya. Maka ia pun akan menajdi manusia yang terhindar dari sifat agresif pula. Dengan demikian maka pertengkaran atau permusuhan tidak akan terjadi. apabila masing-masing manusia telah terpenuhi berbagai kebutuhan esensialnya.

Maka yang perlu dilakukan dalam rumah tangga agar tidak terjadi pertengkaran adalah :
1. Didalam hubungan suami istri perlu menjaga keharmonisan. Perlu memahami kemauan atau keinginan pasangannya.        Menghindari diri dari gengsi yang berlebihan. sebab bermula dari gengsi bisa membentuk sikap sombong. Tak mau      mengakui kesalahan pada diri sendiri dan cenderung menyalahkan orang lain meski dalam hati kecil mengakui kebenaran     orang lain.
2. Prilaku Bijaksana sebab dengan prilaku yang bijaksana akan mau menagkui peranan orang lain. bahwa orang lain pun     perlu dan penting.
3. Berusaha selalu simpati kepada orang lain,. termasuk pasangannya sendiri. Sebab dengan simpati kepada pasangannya    akan menumbuhkan sikap mau memperhatikan dan tidak selalu apatis. Hanya dengan simpati maka pasangannya merasa    diakui, dianggap penting dan selalu merasa dibutuhkan.
4. Mencoba menjadi pendengar yang baik, sebab tidak jaranagn pertengkaran terjadi hanya karena pasangan dianggap tidak    bersedia menampung berbagai keluhannya. sehingga keluhan-keluhan itu akan semakin menyesakkan dadanya. seolah-   olah orang yang memiliki masalah dibiarkan menanggungnya sendiri. Kalau sudah demikian maka pasangannya akan    mudah menjadi agresif.

Ketika pertengkaran selesai, buatlah suatu tindakan fisik yang lembut dan positif dengan pasangan anda. Tidak perlu hangat dan penuh cinta. sentuh atau remas tangannya, remasan pada bahu, sentuh pipinya atau lakukan apa saja secara fisik yang menunjukan anda masih berhubungan satu sama lain dan anda ingin perasaan yang sakit diperbaiki. Itu adalah tanda langsung dan ampuh bahwa anada masih menyayanginya. (By Aldi Ma’ruf)

MEMILIH PASANGAN HIDUP

Terikatnya jalinan cinta dua orang insan dalam sebuah pernikahan adalah perkara yang sangat diperhatikan dalam syariat Islam yang mulia ini. Bahkan kita dianjurkan untuk serius dalam permasalahan ini dan dilarang menjadikan hal ini sebagai bahan candaan atau main-main.
Rasulullah bersabda artinya : “Tiga hal yang seriusnya dianggap benar-benar serius : nikah, cerai dan rujuk.” Salah satunya dikarenakan menikah berarti mengikat seseorang untuk menjadi teman hidup tidak hanya untuk satu dua hari saja bahkan seumur hidup, insya Allah, jika demikian, merupakan salah satu kemuliaan syariat Islam bahawa orang yang hendak menikah diperintahkan untuk berhati-hati, teliti dan penuh pertimbangan dalam memilih pasangan hidup. sungguh sayang anjuran ini sudah semakin diabaikan oleh kebanyakan kaum muslimin. Sebagian mereka terjerumus dalam perbuatan maksiat seperti pacaran dan semacamnya, sehingga mereka pun akhirnya menikah dengan kekasih mereka tanpa memperhatikan bagaimana keadaan agamanya. Sebagian lagi memilih pasangannya dengan pertimbangan fisik. Mereka berlomba mencari wanita cantik untuk dipinang tanpa peduli bagaimana kondisi agamanya. Sebagian lagi menikah untuk menumpuk kekayaan. Mereka pun meminang lelaki atau wanita yang kaya raya untuk mendapatkan hartanya. Yang terbaik tentu adalah apa yang dianjurkan oleh syariat, yaitu berhati-hati, teliti dan penuh pertimbangan dalam memilih pasangan hidup serta menimbang anjuran-anjuran agama dalam memilih pasangan.
Setiap muslim yang ingin beruntung dunia akhirat hendaknya mengidam-idamkan sosok suami dan isteri dengan kriteria sebagai berikut :

1. Taat Kepada Allah Dan Rasul-Nya

Ini adalah kriteria yang paling utama dari kriteria yang lain. Maka dalam memilih calon pasangan hidup, minimal harus terdapat satu syarat ini. Karena Allah SWT berfirman, artinya : “ Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertaqwa” (QS. Al-Hujurat: 13). Rasulullah pun menganjurkan memilih istri yang baik agamanya, artinya : “Wanita biasanya dinikahi karena empat hal : Karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi”. (HR. Bukhari-Muslim).
Jika demikian, maka ilmu agama adalah poin penting yang menjadi perhatian dalam memilih pasangan. Karena bagaimana mungkin seseorang dapat menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, padahal dia tidak tahu apa saja yang diperintahkan oleh allah dan apasaja yang dilarang oleh-Nya ?. Maka disinilah diperlukan ilmu agama untuk mengetahuinya. Maka pilihlah calon pasangan hidup yang memiliki pemahaman yang baik tentang agama. Karena salah satu tanda orang yang diberi kebaikan oleh Allah adalah memiliki pemahaman agama yang baik. Rasulullah SAW bersabda, artinya : ” Orang yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapat kebaikan akan dipahamkan terhadap ilmu agama”. (HR Bukhari-Muslim).

2. Al Kafa’ah (Sekufu/setara).

Yang dimaksud dengan sekufu atau al kafa’ah secara bahasa adalah sebanding dalam hal kedudukan, agama, nasab, rumah dan selainnya. (Lisanul arab, Ibnu Manshur). Al Kafa’ah secara syariat  menurut mayoritas ulama adalah sebanding dalam agama, nasab (keturunan), kemerdekaan dan pekerjaan. Atau dengan kata lain kesetaraan dalam agama dan status sosial. banyak dalil yang menunjukan anjuran ini. Diantaranya firman Allah SWT artinya : “Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. dan laki-lkai yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula”. (QS. An Nur: 26).

3. Menyenangkan jika dipandang

Rasulullah SAW dalam hadits yang telah disebutkan, membolehkan kita untuk menjadikan faktor fisik sebagai salah satu kriteria memilih calon pasangan. Karena paras yang cantik atau tampan, juga keadaan fisik yang menarik lainnya dari calon pasangan hidup kita adalah salah satu faktor penunjang keharmonisan rumah tangga. Maka mempertimbangkan hal tersebut sejalan dengan tujuan dari pernikahan, yaitu untuk menciftakan ketentraman dalam hati. Allah SWT berfirman, artinya : ” Dan diantara tanda-tanda kekuasaan Allah ialah Ia menciftakan bagimu istri-istri dari jenismu sendiri agar kamu merasa tentram dengannya”. (QS. Ar Ruum : 21). Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW juga menyebutkan 4 ciri wanita shalihah yang salah satunya, artinya: ” Jika memandangnya, membuat suami senang”. (HR Abu Dawud).
Oleh karena itu, Islam menetapkan adanya nazhor, yaitu melihat wanita yang hendak dilamar. Sehingga sang lelaki dapat mempertimbangkan wanita yang hendak dilamarnya dari segi fisik. Sebagaimana ketika ada seorang sahabat mengabarkan kepada Rasulullah SAW bahwa ia kan melamar seorang wanita anshor. Beliau bersabda, artinya : ” Sudahkah engkau melihatnya?” Sahabat tersebut berkata, ” belum”. Beliau lalu bersabda, ” pergilah kepadanya dan lihatlah ia, sebab pada mata orang-orang Anshar terdapat sesuatu”. (HR. Muslim).

4. Subur (Mampu menghasilkan keturunan).

Diantara hikmah dari pernikahan adaalah untuk meneruskan keturunan dan memperbanyak jumlah kaum muslimin dan memperkuat izzah (kemualiaan) kaum muslimin. Karena dari pernikahan diharapkan lahirlah anak-anak kaum muslimin yang nantinya menjadi  orang-orang yang shalih yang mendakwahkan Islam. Oleh Karena itulah, Rasulullah SAW menganjurkan untuk memilih calon istri yang subur, artinya : ” Nikahilah wanita yang penyayang dan subur! Karena aku akan berbangga dengan banyaknya ummatku”. (HR. An Nasa’i, Abu dawud dihasankan oleh Al Albani dalam Misykatul Mashabih).
Karena alasan ini juga sebagian ulama (para ahli fikih) berpendapat bolehnya Faskhu an nikah (membatalkan pernikahan) karena diketahui suami memiliki impotensi yang parah. As Sa’di berkata : ” Jika seorang istri setelah pernikahan mendapati suaminya ternyata impoten, maka diberi waktu selama 1 tahun, jika masih dalam keadaan demikian, maka pernikahan dibatalkan (oleh penguasa)” (lihat manhajus Salihin Bab ‘Uyub fin Nikah hal 202).

MEWUJUDKAN RUMAH TANGGA “SAMARA”

Pernikahan adalah peristiwa besar dalam hidup seseorang. Karena pernikahan membawa perubahan status peranan, bahkan perubahan hak dan kewajiban. Bila pasangan suami istri tidak memahami arti penting pernikahan, maka banyak biduk rumah tangga yang karam dihempas gelombang, meski belum lama berlayar. Karena itu ada banayk pasanagn suami istri yang harus melepas impian “Baiti jannati” rumahku surgaku. Buktinya angka perceraian semakin tinggi, dengan berbagai alasan yang kadang hanya karena masalah sepele. Kenapa demikian ???.

Bila kita amati secara seksama ada beberapa faktor penyebab kegagalan membina kebahagiaan dan keharmonisan hubungan suami istri, terutama dalam mewujudkan suasana ” SAMARA” (Sakinah mawaddah dan Rahmah) dalam rumah tangga yaitu :

  1. Kurangnya perhatian terhadap masalah-masalah yang berhubungan dengan fase pra nikah.
  2. Kurangnya pemahaman tentang hak dan kewajiban di antara pasangan suami istri.
  3. Karena ketidakmampuan untuk bersikap realistis dalam masalah nafkah (lahir maupun bathin), sifat masing-masing, pemenuhan hak dan kewajiban, serta masalah lainnya.
  4. Kurang memahami masalah psikis/kejiwaan masing-masing pihak.
  5. Pengabaian terhadap masalah anak, yang seharusnya mendapat perhatian serius.
  6. Ketidakmampuan bersikap proporsional dalam menghadapi problem rumah tangga, yang seringkali muncul setiap waktu.

Selain itu, beberapa faktor lain yang dapat menghambat terciftanya suasana “SAMARA” dalam rumah tangga seperti masalah ekonomi, komunikasi, campur tangan pihak lain dalam urusan internal dan lain-lain.

Bahtera Rumah Tangga adalah sarana penentram jiwa sekaligus pembawa misi mawaddah warahmah. Dalam upaya mewujudkan rumah tangga yang “SAMARA” itu bukanlah melalui proses “Simsalabin alakadabra” tapi harus melalui proses kerja keras individu-individu pendukungnya. oleh karena itu pemahaman yang benar tentang konsep rumah tangga “SAMARA” berikut criteria pasangan suami istri teladan mutlak diperlukan.

Bahtera rumah tangga adalah suatu struktur dalam masyarakat yang bersifat khusus, satu sama lain saling mengikat. Struktur rumah tangga yang terbentuk melalui hubungan pernikahan mengandung tanggungjawab sekaligus melahirkan rasa saling memiliki dan berharap, “mutual expectation”. Perikatan hukum yang diikuti pernikahan bathin itu akan menimbulkan saling asah, asih dan asuh, yang tercermin dalam melaksanakan hak dan kewajiban.

Dalam upaya mewujudkan rumah tangga SAMARA, maka kita dapat bercermin pada kehidupan rumah tangga yang dibangun, dibentuk dan dibina oleh Rosulullah SAW yang teduh/tenang dan lapang dalam segala aspeknya, baik secara moral maupun material.

MODEL KOMUNIKASI DALAM KELUARGA

Tidak dapat dibantah, komunikasi memegang peranan vital dalam menggapai kesuksesan dalam segala hal di dunia ini. Apalagi dalam dunia bisnis, komunikasi benar-benar menentukan sukses tidaknya transaksi bisnis. begitu pula dalam rumah tangga model komunikasi antara anggota benar-benar sangat menetukan sukses tidaknya rumah tangga menggapai keluarga Sakinah, Mawaddah wa rahmah.

secara garis besar model komunikasi yang terjadi dalam keluarga adalah sebagai berikut :

1. Model Saling bertahan

Model komunikasi ini dimana masing-masing pihak bertahan dengan keinginan dan pikirannya masing-masing sehingga sulit untuk mewujudkan rumah tangga yang Sakinah mawaddah wa rahmah kecuali ada kesepakatan dengan cara adu argumentasi yang kuat/menang dan dapat diterima oleh pihak lain maka keinginan/pikiran itu yang dilaksanakan.

2. Model Komunikasi Cenderung Mengalah

Dalam model komunikasi ini salah satu pihak selalu mengalah karena memegang prinsip “daripada ribut” lebih baik mengalah. Model ini tidak akan mungkin menggapai rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah. karena dipastikan pihak yang terus mengalah akan menaruh / menahan keinginan yang terus- terusan tertunda, dan akhirnya pada suatu saat nanti akan meledak. 

3. Model Komunikasi Menang sendiri

Model ini, adalah dimana salah satu pihak atau kedua belah pihak ingin menang sendiri walaupun dengan argumentasi yang kurang tepat. sehingga untuk menggapai usaha membangun rumah tangga sakinah mawaddah wa rahmah mustahil tercapai. karena selalu diwarnai dengan percekcokan.

4. Model Saling Pengertian.

Model komunikasi inilah yang paling tepat di terapkan dalam usaha memebangun keluarga sakinah mawaddah warahmah karena dalam komunikasi ini masing-masing pihak mengutamakan saling pengertian.

KONSEP KELUARGA SAKINAH

Pasangan secara konsepsional harus melahirkan harmoni atu dinamika, slah satu konsep hidup berkeluarga adalah keluarga sakinah, yakni keluarga yang berlangsung dengan menikuti panduan Islam. keluarga sakinah merupakan subsitem dari sistem sosila menurut alquran.

Membina rumah tangga menuju sebuah keluarga yang sakinah mawaddah warahmah jelas tidak segampang yang dibayangkan. membangun sebuah keluarga sakinah adalah suatu proses. keluarga sakinah bukan berarti keluarga yang diam tanpa masalah, namun lebih kepada adanya keterampilan untuk mengelola konflik yang terjadi di dalamnya.

Untuk menciftakan Keluarga Sakinah ada beberapa aspek yang harus diperhatikan diantaranya :

  1. Seluruh komponen rumah tangga harus mampu mengelola semua perbedaan yang ada menjadi sebuah sinergi yang menguntungkan dan saling menguatkan.
  2. Perlu menghindarkan sikap menonjolkan diri atau menganggap dirinya paling penting dan berpengaruh di keluarga.
  3. Orang tua harus mampu memberikan teladan yang baik bagi anaknya.
  4. Harus ada kesabaran dari orang tua dalam mendidik anaknya.
  5. Selalu mengikuti perkembangan anak dan kita bekali mereka dengan ilmu agama dan dunia.